Ratusan Mapala se-Indonesia Ramai-Ramai Tarik Diri dari Penyelenggara TWKM ke-35 di Kendari

Ratusan mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia memilih menarik diri dari pelaksanaan Temu Wicara Kenal Medan (TWKM) ke-35 yang diselenggarakan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Halu Oleo (Mahacala UHO) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Keputusan tersebut diambil setelah muncul sejumlah persoalan dalam pelaksanaan TWKM, mulai dari konsep dan tema yang tidak sesuai dengan tujuan TWKM, seminar nasional yang juga melenceng dari asas kepencintaalaman, pembatasan waktu sidang, perubahan draf hasil kesepakatan TWKM sebelumnya, hingga persoalan pengakuan terhadap perangkat forum.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataan tertulis yang diterima media ini, salah satu peserta forum TW menyebut pihak penyelenggara berupaya mempersingkat waktu sidang dan membatasi ruang peserta untuk menyampaikan gagasan.

“Tuan rumah menuntut untuk mempersingkat waktu sidang TW-TWKM dan membatasi peserta mengemukakan gagasan yang ingin dilahirkan,” ucap salah satu peserta TW-TWKM tersebut

Ia menjelaskan, sebelum situasi memanas, perwakilan sejumlah perangkat forum, yakni PKN, Delegasi, Perumus, dan Presidium sidang, mendatangi pihak panitia di Hotel Srikandi yang menjadi lokasi pelaksanaan TWKM ke-35.

Kedatangan peserta bertujuan menyampaikan sejumlah tuntutan peserta Mapala se-Indonesia kepada panitia penyelenggara.

Namun, pertemuan itu diwarnai perdebatan setelah seorang senior Mahacala disebut menyatakan tidak mengakui TWKM sebagai kegiatan Mapala se-Indonesia dan adanya PKN (Pusat Koordinasi Nasional) MAPALA tingkat perguruan tinggi Se-Indonesia

Pernyataan tersebut dinilai menjadi salah satu pemicu ketegangan antara perwakilan peserta dan pihak penyelenggara.

“Setelah perdebatan panjang, salah satu senior dari Mahacala mengatakan, ‘Kami tidak mengakui PKN, PKD, dan perangkat TWKM’ dengan nada emosi, lalu pergi meninggalkan lokasi dan tidak mengindahkan tuntutan tersebut,”Kata Yusril, Koordinator Pusat Nasional (PKN) Mapala tingkat perguruan tinggi se-Indonesia.

Usai pertemuan tersebut, peserta Mapala se-Indonesia menggelar rapat koordinasi. Mereka kemudian sepakat mendatangi sekretariat Mahacala untuk meminta agar tuntutan yang telah disampaikan dapat dipenuhi.

Selain persoalan tersebut, peserta juga mempersoalkan perubahan draf hasil sidang TWKM ke-34 yang sebelumnya disepakati dalam forum di Kota Palu.

“Draf sidang TWKM ke-34 di Kota Palu yang disepakati di dalam forum TWKM itu diubah oleh panitia penyelenggara TWKM ke-35,” ungkap mereka.

Peserta juga menyoroti penempatan bendera Mapala se-Indonesia yang dinilai tidak sesuai dengan kedudukan organisasi tersebut.

Persoalan lainnya adalah tidak diberikannya ruang sambutan kepada PKN pada pembukaan kegiatan yang menjadi salah satu perangkat TWKM.

Dalam pernyataan itu, mereka menyebut PKN tidak diberi kesempatan menyampaikan sambutan karena dianggap bukan bagian dari perangkat TWKM.

“Tidak diberikannya ruang sambutan PKN di pembukaan TWKM karena tidak dianggap sebagai bagian perangkat TWKM,” tulis mereka.

Dalam pernyataan yang sama, peserta turut menyinggung perubahan berkas administrasi menjadi perangkat forum. Mereka juga menuntut agar bendera dan stempel diserahkan serta pernyataan sikap ditandatangani.

Namun, para peserta menilai tuntutan tersebut tidak diindahkan oleh pihak penyelenggara.

Atas sejumlah persoalan itu, delegasi Mapala se-Indonesia akhirnya memutuskan pilih Ramai-ramai menarik diri dari pelaksanaan TWKM ke-35 di lokasi semula.

Meski demikian, mereka menyatakan akan tetap melanjutkan sidang secara mandiri di lokasi lain hingga seluruh rangkaian kegiatan TWKM ke-35 selesai.

“Para delegasi peserta TWKM Mapala se-Indonesia menarik diri dari penyelenggaraan TWKM dan lanjut menyelesaikan sidang untuk menyukseskan TWKM ke-35 hingga penutupan di lokasi lain,” pungkas peserta forum TW-TWKM.

Pos terkait