Disebut “Goblok” oleh Pengusaha Sound Horeg, MUI Jatim: Kalau Marah Berarti Kita Goblok

Seorang pengusaha sound horeg viral setelah menyebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dengan kata “goblok”. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara talk show di salah satu stasiun TV.

Dalam cuplikan acara tersebut, pengusaha sound horeg bernama Setyo Budi Sularso mengomentari fatwa haram yang dikeluarkan MUI Jawa Timur terkait sound horeg. Setyo sempat diperingatkan pembawa acara untuk mengganti diksi “goblok” saat acara berlangsung.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur, Ma’ruf Khozin, menjelaskan bahwa terdapat dua pengusaha sound horeg yang hadir dalam acara tersebut, yakni David dan Setyo.

Ia mengatakan David telah beberapa kali bertemu dengan jajaran MUI Jawa Timur. Keduanya juga telah sering berdiskusi terkait polemik sound horeg.

“Jadi pertama, dari pengusaha sound horeg itu kan ada dua. Yang satu Mas David yang lebih muda. Mas David itu terlibat sejak tahun kemarin pembahasan sound horeg. Jadi kalau saya dengan Mas David sudah kenal individu, sudah sering ke kantor MUI diskusi,” kata Ma’ruf dilansir kumparan, Kamis (10/9).

“Kalau Mas David itu ya sopan lah ya, ketimuran juga. Bahkan Mas David teman saya. ‘Saya siap memperbaiki sound horeg yang dilarang itu apanya, dancer, siap.’ Nah, dancer-nya dihindari. ‘Nah, ini desibelnya.’ Nah, Mas David ini mematuhi dan beberapa teman,” lanjutnya.

Namun, kata Ma’ruf, pihaknya belum pernah bertemu maupun berdiskusi dengan Setyo sebelumnya. Karena itu, ia tidak mempermasalahkan perkataan “goblok” yang dilontarkan Setyo.

“Adapun sound horeg yang lain yang tidak patuh ya karena banyak ya. Nah, yang satunya Pak Budi. Pak Budi ini tidak pernah berjumpa. Ah, langsung ketemunya di studio. Belum apa-apa langsung ngomong ‘goblok’ ya. Kalau kita enggak ada masalah,” ucapnya.

Ma’ruf kemudian mengibaratkan situasi tersebut seperti seorang dokter yang mengingatkan pasiennya untuk berhenti merokok.

“Kalau saya itu sama seperti dokter jantung. Dokter jantung menghadapi pasien perokok. Nah, jadi pasti dokter itu melarang. Nah, karena ini menyenggol kenyamanan perokok, dia akan mencemooh, ‘barang enak kok dilarang.’ Kan sering kita dengar. ‘Dokter goblok’,” ujarnya.

Selain itu, Ma’ruf mengatakan dirinya berusaha meneladani ajaran Nabi Muhammad SAW dalam mengajak seseorang kepada kebaikan.

“Nah, kalau hari ini kita dibilangin goblok, kalau kita mau meneladani Nabi, Nabi itu bukan cuma dibilang goblok. Bahkan Nabi dibilang tukang sihir, tukang santet bahasa sekarang, terus dibilangin macam-macam. Itu memang risiko, risiko kita mengajak orang, kita mengajak baik, menurut mereka itu mengganggu, ya, mengganggu kenyamanan mereka. Jadi kita dituduh goblok, ya sambil lalu aja lah,” kata dia.

Ma’ruf juga menyampaikan bahwa jajaran MUI melalui proses seleksi yang ketat. Karena itu, menurutnya, MUI tidak perlu tersinggung dengan perkataan tersebut.

“Kemudian, saya sampaikan, di MUI itu rata-rata kiai lulusan pondok besar, Pondok Lirboyo, Pondok Ploso. Dan di Komisi Fatwa itu screening-nya ketat, dua kali screening. Dilihat latar belakang, dilihat kiprahnya, dilihat karya-karyanya. Ada beberapa kiai enggak masuk seleksi, enggak masuk screening,” ujar dia.

“Kemudian ada yang S3, bahkan sudah guru besar. Jadi kalau dimaksud goblok begitu ya gugur dengan sendirinya. Justru kalau kita marah, kita tersinggung, berarti kita goblok. Jadi justru kita enggak marah itu menunjukkan kita enggak tersinggung. Ya, jadi ya mungkin beliau karena belum tahu banyak lah tentang MUI,” imbuhnya.

Sementara itu, pengusaha sound horeg asal Karanganyar tersebut akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan menyatakan penyesalannya setelah menyebut MUI Jawa Timur dengan kata “goblok”.

Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung oleh Setyo Budi Sularso di kediaman Ketua MUI Kabupaten Karanganyar, KH Badarudin, pada Rabu malam (9/9).

“Saya sangat menyesal atas perkataan saya terhadap MUI Jawa Timur pada saat acara di TV One. Saya memohon maaf kepada MUI Jawa Timur, MUI Jawa Tengah, MUI Pusat, dan MUI Kabupaten Karanganyar,” ujar Setyo.

Ia menambahkan, “Saya menyesal atas perkataan yang saya sampaikan terhadap MUI Jawa Timur, saya tidak akan mengulang perbuatan tersebut, dan saya bertaubat. Demikian pernyataan saya sampaikan dengan penuh rasa sadar dan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun,” kata dia.

Pos terkait