Enam Masa, Satu Tuhan: Membaca Jejak Tauhid dalam Kosmos

  1. Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak sekadar mengajak manusia percaya kepada Tuhan, tetapi mengajak manusia membaca alam sebagai tanda-tanda kehadiran-Nya. QS. Al-A‘rāf [7]: 54 adalah salah satunya.

    إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا ۖ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    Bacaan Lainnya

    “Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang yang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi milik-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

    Ayat ini berbicara tentang penciptaan, waktu, keteraturan kosmos, kekuasaan, dan tauhid. Tetapi jika dibaca lebih dalam, ia juga berbicara tentang manusia: dari mana kita berasal, kepada siapa kita bertanggung jawab, dan bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan di tengah alam semesta yang demikian luas.

    Enam masa dan kritik terhadap kesombongan manusia

    Al-Qur’an menyebut bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dalam sittati ayyām, enam masa. Dalam membaca ungkapan ini, kita perlu berhati-hati untuk tidak buru-buru menyamakannya dengan enam hari sebagaimana ukuran 24 jam manusia.

    Al-Qur’an menggunakan konsep waktu secara beragam. Bahkan dalam QS. Al-Hajj [22]: 47 disebutkan bahwa satu hari di sisi Tuhan seperti seribu tahun menurut perhitungan manusia. QS. Al-Ma‘ārij [70]: 4 bahkan menyebut ukuran lima puluh ribu tahun.

    Pesannya jelas: waktu Tuhan tidak harus dibatasi oleh ukuran waktu manusia.

    Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan kerendahan hati epistemologis. Manusia memang mampu menghitung usia bumi, mengamati galaksi, memetakan DNA, menjelajah ruang angkasa, dan mengembangkan kecerdasan buatan. Tetapi kemampuan menjelaskan mekanisme alam tidak otomatis membuat manusia menjadi penguasa mutlak atas realitas.

    Kita mampu membaca sebagian kecil dari kitab semesta, tetapi belum tentu memahami seluruh maknanya.

    Sains menjelaskan bagaimana sesuatu berlangsung; iman mengajak manusia bertanya untuk apa semua itu bermakna.

    Keduanya tidak harus dipertentangkan.

    Dari enam masa menuju satu Tuhan

    Yang menarik, ayat ini tidak berhenti pada penciptaan.

    Setelah menyebut langit dan bumi, matahari, bulan, dan bintang, Al-Qur’an menutupnya dengan deklarasi:
    أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

    “Ingatlah, milik-Nyalah segala penciptaan dan segala urusan.”

    Inilah jantung tauhid.

    Kosmos boleh begitu luas, tetapi pusat maknanya satu.

    Bintang-bintang berjumlah tak terhitung. Planet dan galaksi demikian banyak. Kehidupan memiliki bentuk yang beragam. Manusia berbeda bahasa, budaya, bangsa, dan pengalaman. Namun di balik keragaman tersebut terdapat satu sumber penciptaan.

    Enam masa, satu Tuhan.
    Banyak ciptaan, satu Pencipta.
    Banyak jalan kehidupan, satu sumber keberadaan.

    Tauhid dengan demikian bukan sekadar formula teologis bahwa Allah itu Esa. Tauhid adalah cara memandang realitas secara utuh: bahwa tidak ada sesuatu pun yang berdiri secara mutlak di luar kehendak dan pengetahuan Allah.

    Kosmos bukan benda mati

    Ayat ini juga mengajak kita mengubah cara memandang alam.

    Matahari, bulan, dan bintang disebut:

    مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

    “ditundukkan dengan perintah-Nya.”

    Alam bukan sekadar benda mati yang boleh dieksploitasi sesuka hati.

    Dalam perspektif Qur’ani, alam adalah ayat—tanda yang menunjuk kepada Allah.

    Karena itu, merusak alam bukan sekadar persoalan ekologis. Ia juga memiliki dimensi spiritual.

    Hutan yang ditebang tanpa kendali, laut yang dipenuhi sampah, udara yang tercemar, sungai yang diracuni, dan tanah yang dieksploitasi tanpa batas menunjukkan bahwa manusia telah kehilangan kemampuan membaca alam sebagai amanah.

    Kita terlalu sering melihat alam sebagai resource, tetapi lupa melihatnya sebagai revelation—tanda kebesaran Tuhan.

    Padahal Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, tumbuhan, air, hewan, dan seluruh keteraturan kehidupan.

    Alam adalah kitab yang terbuka.

    Dan manusia adalah pembacanya.

    Pergantian malam dan siang: metafora kehidupan

    Ayat ini juga menyebut:

    يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا

    “Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.”

    Malam dan siang bergerak dalam keteraturan yang menakjubkan.

    Tidak ada kekacauan.

    Malam tidak memberontak kepada siang. Siang tidak menolak kehadiran malam. Keduanya menjalankan hukum kosmik yang telah ditetapkan Allah.

    Di sini terdapat pelajaran sufistik yang dalam.

    Kehidupan manusia juga mengenal malam dan siang.

    Ada masa terang dan masa gelap. Ada keberhasilan dan kegagalan. Ada kelahiran dan kematian. Ada perjumpaan dan perpisahan. Ada kelapangan dan kesempitan.

    Tetapi seperti malam yang tidak abadi, kegelapan hidup pun tidak selamanya.

    Karena itu, orang beriman tidak mabuk ketika memperoleh siang dan tidak kehilangan harapan ketika berada dalam malam.

    Ia mengetahui bahwa seluruh perjalanan berada dalam orbit kehendak Tuhan.

    Arsy dan kesadaran tentang Tuhan

    Ayat ini menyebut:

    ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

    Pembicaraan mengenai ‘Arsy dalam Al-Qur’an harus ditempatkan dalam kerangka keagungan dan kekuasaan Allah, tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk.

    Para ulama Ahlussunnah memiliki beragam pendekatan dalam menjelaskan ayat-ayat sifat. Sebagian menegaskan maknanya sebagaimana datang dalam wahyu tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk; sebagian melakukan tafwīḍ ; sebagian lainnya memberikan penjelasan metaforis sesuai kaidah bahasa dan teologi.

    Yang terpenting secara spiritual bukan membayangkan Allah seperti makhluk yang menempati ruang, tetapi memahami pesan utama ayat: Allah adalah Rabb yang menguasai dan mengatur seluruh alam.

    Karena itu, ayat ini berakhir dengan:

    تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

    “Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

    Bukan hanya Tuhan manusia.
    Bukan Tuhan satu bangsa.
    Bukan Tuhan satu kelompok.

    Rabb al-‘ālamīn—Tuhan seluruh alam.

    Di sinilah tauhid memiliki implikasi kemanusiaan yang sangat luas.

    Tauhid dan kesetaraan manusia

    Jika Tuhan adalah Rabb seluruh alam, maka tidak seorang pun manusia berhak mengklaim dirinya sebagai pemilik mutlak manusia lainnya.

    Kekuasaan manusia bersifat sementara.

    Jabatan sementara.
    Popularitas sementara.
    Kekayaan sementara.
    Bahkan tubuh yang kita banggakan pun pada akhirnya kembali kepada tanah.

    Tauhid dengan demikian adalah kritik terhadap segala bentuk pengultusan manusia.

    Manusia hanya boleh tunduk secara mutlak kepada Allah. Kepada sesama manusia, kita membangun relasi berdasarkan keadilan, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat.

    Inilah salah satu kekuatan revolusioner tauhid.

    Ia membebaskan manusia dari penyembahan terhadap berhala-berhala modern: uang, jabatan, kekuasaan, popularitas, ideologi, bahkan ego diri sendiri.

    Kosmos dan krisis manusia modern

    Ironisnya, manusia modern semakin mampu menguasai alam tetapi semakin sering kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

    Kita memiliki smartphone, tetapi sulit mengendalikan jempol.

    Kita memiliki internet, tetapi sulit mengendalikan informasi.

    Kita memiliki kecerdasan buatan, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan.

    Kita mampu menghubungkan jutaan manusia melalui jaringan digital, tetapi banyak orang justru mengalami kesepian.

    Kita memiliki akses terhadap hampir seluruh pengetahuan dunia, tetapi semakin sulit membedakan mana informasi, mana propaganda, mana kebenaran, dan mana manipulasi.

    Di sinilah QS. Al-A‘rāf [7]: 54 menjadi sangat relevan.

    Alam semesta memiliki keteraturan, sementara manusia sering hidup dalam kekacauan informasi.

    Kosmos memiliki orbit, manusia kehilangan orientasi.

    Planet bergerak dalam hukum yang pasti, tetapi manusia sering bergerak mengikuti dorongan algoritma.

    Karena itu, persoalan terbesar manusia digital bukan sekadar kurangnya informasi, tetapi hilangnya arah.

    Dari algoritma menuju ayat

    Media sosial bekerja berdasarkan algoritma.

    Algoritma menentukan apa yang muncul di layar kita, apa yang menjadi tren, apa yang mendapatkan perhatian, bahkan secara tidak langsung dapat memengaruhi cara kita berpikir dan merasa.

    Tetapi seorang beriman tidak boleh menyerahkan seluruh orientasi hidupnya kepada algoritma.

    Ia harus kembali kepada ayat.

    Algoritma bertanya:

    “Apa yang paling menarik perhatianmu?”

    Wahyu bertanya:

    “Apa yang paling benar hidupmu?”

    Algoritma mengejar engagement.

    Wahyu mengejar hidayah.

    Algoritma mengukur popularitas.

    Allah mengukur ketakwaan.

    Di sinilah manusia modern membutuhkan literasi digital sekaligus literasi spiritual.

    Sains, teknologi, dan tauhid

    QS. Al-A‘rāf [7]: 54 tidak mengajarkan manusia untuk takut terhadap ilmu pengetahuan.

    Sebaliknya, keteraturan kosmos justru menjadi alasan manusia untuk melakukan penelitian.

    Jika alam memiliki hukum, manusia dapat mempelajarinya.

    Jika alam memiliki keteraturan, manusia dapat menemukan pola.

    Jika alam memiliki sistem, manusia dapat mengembangkan teknologi.

    Tetapi ilmu pengetahuan harus disertai kesadaran etis.

    Kita boleh bertanya:

    Bisakah teknologi dilakukan?

    Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:

    Haruskah teknologi itu dilakukan?

    AI dapat membuat banyak hal.

    Tetapi kemampuan teknis tidak otomatis menjadi legitimasi moral.

    Karena itu, kemajuan teknologi harus selalu ditemani oleh hikmah.

    Kecerdasan tanpa etika dapat menjadi ancaman.
    Teknologi tanpa tauhid dapat berubah menjadi alat dominasi.
    Pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kehancuran.

    Manusia: khalifah, bukan pemilik mutlak

    Kesadaran tauhid juga mengubah hubungan manusia dengan alam.

    Manusia bukan pemilik absolut bumi. Ia adalah khalifah dan pemegang amanah.

    Karena itu, alam tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai objek konsumsi.

    Kita mengambil dari alam, tetapi juga wajib merawatnya.

    Kita menggunakan air, tetapi harus menjaganya.

    Kita memanfaatkan hutan, tetapi harus memastikan keberlanjutannya.

    Kita membangun kota, tetapi tidak boleh menghancurkan ekosistem.

    Dalam bahasa kontemporer, QS. Al-A‘rāf [7]: 54 dapat dibaca sebagai dasar spiritual bagi ekoteologi: kesadaran bahwa merawat alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia kepada Allah.

    Sebuah renungan sufistik

    Para sufi mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukan sekadar perjalanan jasmani dari satu tempat ke tempat lain, tetapi perjalanan batin dari ego menuju Tuhan.

    Kosmos yang luas sesungguhnya mengajarkan satu hal sederhana:

    manusia bukan pusat segala sesuatu.

    Kita hanyalah bagian kecil dari semesta yang sangat luas.

    Namun justru karena kecil, manusia dipanggil untuk memiliki kesadaran yang besar.

    Melihat langit seharusnya membuat kita rendah hati.

    Melihat bintang seharusnya membuat kita takjub.

    Melihat keteraturan alam seharusnya membuat kita bersyukur.

    Melihat kematian seharusnya membuat kita sadar bahwa kehidupan bukan milik kita sepenuhnya.

    Dan melihat seluruh kosmos seharusnya membawa kita kepada satu kesaksian:

    لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

    “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

    Itulah perjalanan dari kosmologi menuju tauhid.

    Enam masa sebagai pelajaran kesabaran

    Ada satu pelajaran lain yang sering luput.

    Allah Mahakuasa. Jika Allah menghendaki, Dia tentu mampu menciptakan segala sesuatu seketika. Namun Al-Qur’an menyebut penciptaan dalam enam masa.

    Ini dapat menjadi refleksi tentang sunnatullah dan proses .

    Manusia sering menginginkan hasil instan:

    ingin kaya dengan cepat,
    ingin sukses dengan cepat,
    ingin terkenal dengan cepat,
    ingin mendapatkan jabatan dengan cepat,
    ingin ilmu tanpa proses,
    ingin perubahan tanpa kesabaran.

    Padahal alam semesta sendiri mengajarkan:

    segala sesuatu memiliki proses.

    Benih tidak langsung menjadi pohon.

    Bayi tidak langsung menjadi dewasa.

    Ilmu tidak lahir tanpa belajar.

    Peradaban tidak dibangun dalam semalam.

  1. Karena
  1. itu, “enam masa” dapat dibaca sebagai pendidikan spiritual tentang kesabaran, proses, disiplin, dan sunnatullah—tanpa menyimpulkan bahwa ayat tersebut secara langsung dimaksudkan sebagai teori perkembangan alam semesta modern.

    Dari kosmos menuju karakter

    Pada akhirnya, ayat ini bukan hanya mengajak kita melihat langit.

    Ia mengajak kita mengubah diri.

    Jika Allah menciptakan kosmos dengan keteraturan, mengapa kehidupan kita penuh kekacauan?

    Jika matahari, bulan, dan bintang tunduk kepada perintah Allah, mengapa manusia yang diberi akal justru sering tunduk kepada hawa nafsu?

    Jika alam berjalan dalam keseimbangan, mengapa manusia merusak keseimbangan ekologis?

    Jika Allah adalah Rabb al-‘ālamīn, mengapa manusia masih membangun kesombongan atas dasar suku, ras, bangsa, jabatan, dan kekayaan?

    Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita dari tafakkur kosmologis menuju muhasabah eksistensial.

    Penutup

    QS. Al-A‘rāf [7]: 54 adalah ayat tentang kosmos, tetapi sesungguhnya juga merupakan ayat tentang arah hidup manusia.

    Langit mengajarkan keluasan.
    Bumi mengajarkan kerendahan hati.
    Matahari mengajarkan ketekunan.
    Bulan mengajarkan keteraturan.
    Malam mengajarkan keheningan.
    Siang mengajarkan aktivitas.
    Bintang mengajarkan ketakjuban.

    Dan seluruh alam mengajarkan satu pelajaran tertinggi:

    di balik keragaman ciptaan terdapat kesatuan Pencipta.

    Enam masa bukan enam Tuhan.

    Banyak bintang bukan banyak penguasa.

    Beragam kehidupan bukan berarti tanpa arah.

    Satu kosmos, satu hukum, satu sumber penciptaan, satu Tuhan.

    Karena itu, membaca QS. Al-A‘rāf [7]: 54 di zaman digital berarti belajar melihat kembali dunia dengan mata tauhid: menguasai teknologi tanpa diperbudak teknologi, membaca alam tanpa mengeksploitasinya, menggunakan ilmu tanpa kehilangan hikmah, dan menjelajah semesta tanpa kehilangan jalan pulang kepada Allah.

    Sebab pada akhirnya, sebesar apa pun kosmos yang berhasil kita jelajahi, perjalanan manusia yang paling menentukan tetaplah perjalanan dari mata menuju hati, dari pengetahuan menuju kebijaksanaan, dan dari alam menuju Allah.

    Enam masa, satu Tuhan.
    Banyak ciptaan, satu Pencipta.
    Semesta bergerak dalam ketetapan-Nya; manusia berjalan mencari makna di hadapan-Nya.

    Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb

Pos terkait