Laba Bank Mandiri Tembus Rp30,4 Triliun

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 30,4 triliun hingga semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 24,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, membeberkan kinerja laba tersebut dicatat Bank Mandiri dengan pendorong pertumbuhan bisnis, kualitas aset yang terjaga, serta peningkatan pendapatan berbasis komisi (fee-based income).

Bacaan Lainnya

“Jadi sampai dengan posisi Juni 2026, laba Bank Mandiri mencapai Rp 30,4 triliun atau tumbuh 24,4 persen secara year on year. (Pendorongnya) dari pertumbuhan dari bisnis itu sendiri,” kata dia dalam konferensi pers Kinerja Bank Mandiri Kuartal II 2026 secara daring, Kamis (23/7).

Lebih lanjut, Novita menjelaskan kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tercatat di kisaran 17,1 persen di posisi Rp 1.710,032 triliun, lalu aset yang tumbuh 19,1 persen menjadi Rp 2.349,192 triliun

Selain itu ada juga pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai 19.9 persen menjadi Rp 1.591,678 triliun dibandingkan Rp 1.327,537 triliun pada Juni 2025.

“Jadi dengan pertumbuhan ini tentunya menghasilkan revenue ataupun NII yang cukup baik di 8 persen,” imbuhnya.

Dari sisi rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), emiten berkode BMRI tersebut mencatatkan NPL di level 0,98 persen dengan coverage ratio sebesar 242 persen dan cost of credit (CoC) yang stabil di level 0,52 persen.

Novita menuturkan capaian tersebut sejalan dengan strategi Bank Mandiri, yaitu fokus menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang prospektif dan resilien. Hal ini juga dilakukan bersamaan dengan upaya memperkuat ekosistem bisnis serta mendukung agenda strategis pemerintah.

Menurut Novita, pertumbuhan laba juga didorong oleh peningkatan pendapatan non-bunga atau fee-based income yang bersifat berulang (recurring).

“Kinerja tersebut didorong oleh recurring income yang berasal dari fee Livin Bank Mandiri yang tumbuh 46 persen, fee dari Kopra Bank Mandiri ini tumbuh 22,8 persen. Kita juga memiliki fee-based recurring yang berasal dari transaksi-transaksi terseri yang menghasilkan pertumbuhan fee sebesar 23 persen,” jelasnya.

Dari sisi efisiensi, cost to income ratio (CIR) Bank Mandiri turun menjadi 35,6 persen atau membaik 7,8 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Novita, peningkatan efisiensi tersebut merupakan hasil transformasi digital yang telah dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Adapun dari sisi profitabilitas, Bank Mandiri membukukan return on equity (ROE) sebesar 24,3 persen dan return on assets (ROA) sebesar 3,10 persen pada semester I 2026. Menurut Novita, capaian tersebut mencerminkan kemampuan perseroan dalam menciptakan nilai secara berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Berdasarkan data Bank Mandiri, per Juni 2026 imbal hasil kredit tercatat sebesar 7,01 persen, menurun 74 bps secara tahunan (yoy) dibandingkan 7,75 persen pada Juni 2025.

Sementara itu, imbal hasil kredit ritel UMKM juga mengalami penurunan dari 9,77 persen pada Juni 2025 menjadi 9,13 persen pada Juni 2026, atau turun 64 bps YoY. Margin bunga bersih (NIM) tercatat sebesar 4,37 persen, turun 26 bps YoY dari 4,63 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi pendapatan, total pendapatan pada Juni 2026 mencapai Rp 60,7 triliun, meningkat 10,3 persen YoY dibandingkan Rp 55,0 triliun pada Juni 2025. Sementara itu, total beban mengalami penurunan sebesar 5,73 persen YoY, dari Ro 27,2 triliun menjadi Rp 25,6 triliun.

Pos terkait