PT Pertamina (Persero) buka suara terkait harga BBM nonsubsidi Pertamax (RON 92) tidak berubah pada 1 Juli 2026, di saat produk lain seperti Pertamax Turbo (RON 98) dan Dex Series menurun.
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi berlandaskan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Harga BBM nonsubsidi disesuaikan setiap awal bulan, mengikuti pergerakan harga minyak mentah global hingga kurs rupiah terhadap dolar AS.
“Kami mengikuti prosedur tersebut. Apa yang terjadi kemarin 1 Juli adalah berdasarkan aturan, ketentuan, dan juga harga minyak dunia tentunya,” jelasnya saat ditemui di Graha Pertamina dilansir kumparan, Kamis (2/7).
Selain mengikuti ketentuan tersebut, Pertamina juga tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat sebelum menyesuaikan harga BBM nonsubsidi.
“Komponen dari kemampuan atau daya beli masyarakat tentu tetap menjadi salah satu pertimbangan kami dalam menetapkan harga,” tegas Baron.
Adapun Pertamina sudah menahan harga Pertamax sejak April 2026 meskipun harga minyak mentah pada saat itu melonjak tinggi. Perseroan baru menaikkan harganya pada 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.250 per liter dan dipertahankan hingga saat ini.
Harga minyak mentah global memang baru anjlok drastis mulai pekan kedua Juni 2026, seiring dengan menurunnya tensi perang AS dan Iran dan dibukanya kembali lalu lintas Selat Hormuz. Saat ini, harga patokan Brent maupun WTI sudah di bawah USD 80 per barel.
Sementara itu, harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Mei 2026 bertengger di level USD 106,56 per barel, kendati sudah turun dari posisi April 2026 yang menembus USD 117,31 per barel.
Di sisi lain, Baron juga mengantisipasi pergeseran konsumsi masyarakat dari Pertamax atau Pertamax Turbo menjadi Pertalite, yang harganya lebih murah dan belum berubah karena disubsidi pemerintah.
“Kalau shifting atau kegiatan perubahan dari pengguna, sebenarnya ini memang kami terus memantau, sehingga dalam penyalurannya sendiri, kami melihat bagaimana kami menyalurkan BBM nonsubsidi dan BBM subsidi tersebut,” tandas Baron.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia buka suara soal potensi turunnya harga BBM nonsubsidi di tengah melemahnya harga minyak mentah global. Dia menilai penyesuaian harus bersifat adil (fair).
“Kita lihat saja (penyesuaian harga BBM bulan depan),” ungkap Bahlil saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Senin (29/6).
Menurutnya, perusahaan pelat merah sektor migas tersebut sudah menahan harga BBM nonsubsidi lebih dari 3 bulan, dan kenaikan baru terjadi sekitar 3 pekan lamanya.
“Teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masak baru naik baru naik dua minggu atau tiga minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu. Kenapa waktu kemarin kok tidak tanya (harga BBM) enggak diturunkan?” tegas Bahlil.






